Tuesday, September 30, 2014

Perbandingan Perspektif Neorealisme dan Neoliberalisme

Perbandingan Perspektif Neorealisme dan Neoliberalisme


         Pada hakikatnya, pertentangan dua perspektif penting dalam dunia hubungan internasional ini memiliki sebuah titik singgung persamaan, yakni sama-sama menggunakan sistem anarki sebagai pedoman sistem internasionalnya. Sebuah perdebatan yang biasa dikenal sebagai perdebatan ‘neo-neo’ ini mempertemukan
perspektif neorealisme dan neoliberalisme. Esensi yang dimiliki didalamnya adalah dimana perdebatan antara neorealisme dan neoliberalisme bukanlah perdebatan yang kontras dan memiliki perbedaan yang berarti, dan secara epistemologis neorealisme dan neoliberalisme berfokus pada isu yang sama atau dengan kata lain perdebatan dua neo-neo ini merupakan debat inter-paradigm. Kaum neorealis berfokus pada isu keamanan dan kekuatan militer internasional dengan menerapkan politik kelas atas. Sedangkan neoliberalis lebih memfokuskan diri kepada isu ekonomi politik dan hak asasi manusia dengan berpedoman pada sistem politik tingkat rendah. Yang menjadi turning point dalam debat neo-neo ini adalah dimulai sejak paska perang dunia kedua dimana realisme sering dianggap banyak orang sebagai pemenangnya. Kemenangan kaum realis secara otomatis mulai meramaikan munculnya institusi internasionall sebagai collective actor. Tidak hanya itu, setelah perang dunia II, terjadi integrasi di Eropa dan melahirkan pluralitas di Amerika Serikat. Dampak dari perang dunia II lainnya adalah kemunculan non-state sebagai salah satu aktor utama dalam hubungan internasional. Diluar konteks perang dunia kedua, meningkatnya dampak-dampak dari kaum behavioralis, dan sekaligus melahirkan pendekatan secara scientific. Hingga akhirnya kemunculan berbagai jenis dari realisme dan liberalisme, termasuk diantaranya adalah neorealisme dan neoliberalisme ini. Salah satu aktor neoralis yakni, Kenneth N. Waltz (1979) mengungkapkan kritik bagi realisme melalui bukunya berjudul Theory of International Politics, diantaranya adalah (1) realisme merupakan induk yang bersifat primer dalam sebuah teori hubungan internasional, (2) power adalah akhir dari segalanya sehingga apabila lebih mengutamakan power dianggap akan menghancurkan diri sendiri, (3) dalam struktur perspektif realisme, anarki merupakan sebuah sistem internasionalnya. Waltz (1979) juga menyatakan bahwa kaum neo-realis memiliki kekuatan untuk memengaruhi lawannya lebih besar jika dibandingkan dengan bagaimana lawan memengaruhi kaum neo-realis. Para neo-realis menganggap power berasal dari sebuah perspektif zero-sum yang bersifat fungibility atau memiliki kapabilitas yang memadai. Pertentangan neorealisme dan neoliberalisme ini kerapkali diwakilkan dengan tema-tema yang tercantum pada jurnal International Security dan International Organization. Neorealisme menurut Kenneth Waltz (1979) merupakan (1) sebuah perspektif yang telah menghadirkan pandangan yang bersifat scientific dalam dunia hubungan internasional. (2) Dalam Cobweb Model telah dijelaskan bahwa neorealisme menggunakan struktur yang terdesentralisasi oleh anarki dan negara. (3) Negara sebagai aktor yang memiliki power terbesar sangatlah krusial sehingga sistem stabilitas yang diterapkan memerlukan hegemon. (4) Permasalahan utama dalam perspektif neorealisme adalah dimana power yang besar dapat menyebabkan peperangan. (5) Tugas utama kaum neorealis adalah mengenai perdamaian dan keamanan internasional. (6) Neorealisme memfokuskan diri kepada struktur, bukan sifat alamiah manusia. (7) Pemimpin sebuah negara adalah tahanan dari sebuah struktur sistem internasional, yakni anarki. (8) Proses pembuatan keputusan tidak terlepas dari anarki keputusan pemimpin yang dibatasi oleh struktur internasional. Waltz juga membandingkan neorealisme secara international structure dan international outcomes. Struktur internasional yang dimaksud adalah menggunakan sistem anarki, negara merupakan sebuah kesatuan yang kompleks, kapabilitas yang tidak seimbang, dan hubungan power yang besar. Sedangkan dalam international outcomes, neorealisme menghasilkan konsep balance of power, bersifat kambuh dan akan mengalami pengulangan terus menerus, menyebabkan konflik dan perang, dan perubahan dalam skala internasional. Berbeda dengan neorealisme, neo-liberalisme berakar dari fungsui integrasi di tahun 1950 sampai 1960an dan interdependensi yang kompleks di tahun 1970-1980an (Dugis 2014). Neoliberalisme tumbuh dan berkembang sebagai kritis dari realisme dan neorealisme. Kaum neoliberalis percaya bahwa IGOs dan aktor non-state dapat membantu dunia mencapai perdamaian melalui adanya sebuah kerjasama. Disini, neoliberalisme meneliti bagaimana sebuah negara mampu bekerjasama dengan aktor lain dan mempertegas kembali adanya sebuah konflik. Bagi kaum neoliberalis, institusi internasional merupakan mediator dan arti penting kejasama. Neoliberalis juga mengakui bahwa dengan sebuah kerjasama mungkin akan lebih sulit untuk mencapai tujuan dimana setiap aktor pemimpin tidak ada yang memiliki kesamaan dalam kepentingan. Asumsi neoliberalisme adalah bahwa negara bekerjasama untuk mencapai keuntungan yang absolut dan penghambat terbesar untuk bekerjasama adalah munculnya kecurangan atau dengan kata lain adalah ketidaksesuaian antara negara satu dengan negara lainnya. Asumsi-asumsi dasar kaum neoliberalis diatas dapat dilihat dari kasus Palestina dan Israel yang hingga kini tak kunjung padam. Kunci utama yang dapat dilihat secara keseluruhan dari perdebatan neo-neo ini adalah dalam hal anarki, kerjasama internasional, keuntungan yang diperoleh, tujuan sebuah negara, niat dan kapabilitasnya, serta dalam hal institusi dan rezim. Dalam anarki, neoliberalis percaya bahwa survival adalah hal yang terpenting bagi sebuah negara. Namun, baik neorealis maupun neoliberalis, keduanya menerima anarki sebagai sistem internasionalnya. Dalam kerjasama internasional, keduanya menganggap mungkin saja terjadi, namun pesimis karena neoliberalis dan neorealis percaya bahwa akan lebih sulit dilakukan apabila dalam bingkai realis. Dalam keuntungan—yakni mengenai apa yang bisa dicapai oleh kedua perspektif ini—keduanya menganggap hal itu relatif. Bahkan kaum neorealis menggunakan kalimat ‘what you gain is equal to what you give’ untuk menyatakan kerelatifan keuntungan yang didapat. Dalam hal tujuan negara, neorealis menyatakan bahwa satu-satunya tujuan sebuah negara adalah survive, sedangkan neoliberalis menganggap bahwa ekonomilah segala-galanya karena tanpa ekonomi pun negara tersebut tidak akan bisa survive. Yang terakhir adalah dalam hal institusi dan rezim dimana neorealis menganggap bahwa hadirnya institusi dan rezim tidak terlalu perlu, namun bagi neorealis sangat perlu karena dapat membantu adanya kerjasama internasional. Dengan kesimpulan bahwa perspektif neo-realisme dan neo-liberalisme tidak memiliki perbedaan dalam pandangan masing-masing secara signifikan seperti pada saat perbandingan realisme dan liberalisme. Neorealisme dan neoliberalisme pada dasarnya berangkat dari titik yang sama namun dengan pandangan yang sedikit berbeda. Titik yang sama itu adalah anarki dan kerjasama serta tujuan dari sebuah negara.

Referensi: 
 Dugis, Vinsensio. 2014. Neorealism vs Neoliberalism,
Waltz, Kenneth. 1979. Theory of International Politics. McGraw Hill. New York.

No comments:

Left your comment here