Marxisme dan Strukturalisme
Menghadapi berbagai fenomena internasional, praktisi akademis menjawabnya dengan spekulasi-spekulasi yang lantas dipatenkan menjadi teori-teori dalam Hubungan Internasional. Realis sebagai teori yang mengandalkan keyakinannya pada sifat homo homini lupus manusia menggambarkan sikap-sikap negara yang
selalu ingin menguasai serta paham realisme menyatakan dan menitikberatkan bahwa perang yang selama ini telah terjadi dan dianggap sebagai gejala masif yang destruktif merupakan pemicu dari adanya perdamaian itu sendiri. Sedangkan teori liberaalisme sebagai teori kontradiktif dari realis menyatakan bahwa perdamaian mesti diwujudkan dan peperangan bukanlah alat pencapaian perdamaian itu. Hadir pula paham neorealisme atau realisme struktural dan neoliberalisme sebagai terobosan dan penyempurnaan dari teori sebelumnya yang bersifat saling melengkapi dan tidak sekontras paham realisme dengan liberalisme seperti sebelumnya. Lantas, datang sebuah perspektif baru yang menitikberatkan kajian pada aspek ekonomi dan material serta meyakini hal-hal persamaan (equality) dan pengaburan sistem kelas di dunia internasional, dimana perspektif yang tidak murni datang dari kajian Hubungan Internasional ini dikenal dengan perspektif marxisme serta perspektif lainnya yang menitik beratkan pada akses (equity) yakni perspektif strukturialisme. Kedua perspektif tersebut secara bersama-sama menolak paham realisme maupun paham liberalisme yang cenderung self-serving.
Perspektif marxisme yang berbasis ekonomi ini melihat adanya dua kelas di dalam struktur ekonomi yakni kelas borjuis dan kelas proletar, dimana kelas borjuis yang cenderung dominan daripada kelas proletar menciptakan ketidaksetaraan, ketidakseimbangan serta ketidakadilan. Dunia telah didominasi oleh kaum kapitalis serta hanya menyediakan tempat bagi negara-negara yang tergolong telah makmur serta korporasi yang dimiliki oleh negara-negara tersebut (Wardhani 2014). Marxisme menganggap bahwa dunia disusun oleh kapitalis yang terintegrasi dengan baik sehingga hanya mengejar akumulasi modal-modal kapital dan mengeksploitasi kaum proletar secara terus-menerus. Keinginan marxisme untuk meniadakan garis batas antara kaum borjuis dan kaum proletar seringkali dilihat sebagai keinginan utopis; ideologi atau keinginan untuk menjadikan negara dan struktur kenegaraannya sempurna, saja. Kapitalisme ini telah dimulai sejak adanya kolonialisme yang membawa persaingan dalam memanfaatkan sumberdaya yang esensial sebagai bahan ekspor di masa lalu, dilanjutkan dengan masa dekolonialisasi yang justru meningkatkan tingkat dependensi antar negara dan memicu kapitalisme merajalela. Namun apabila disandingkan dengan feodalisme, marxisme menganggap sistem kapitalisme ini sangat positif eksistensinya dalam dunia internasional.
Perspektif lain yakni perspektif strukturialisme yang datang kemudian hadir untuk mengkritik asumsi-asumsi dari paham marxisme itu sendiri, dimana kritiknya berupa kemustahilan dari harapan marxisme dimana kaum proletar akan melakukan protes massal secara internasional untuk meruntuhkan benteng dari kaum borjuis. Strukturialisme sebagai teori pengkritik marxisme ini sendiri menghasilkan dua teori paling penting dimana dianggap sukses menjadi panduan dalam mengkaji dunia yakni teori world-systems yang dikomandoi oleh Immanuel Wallerstein serta teori ketergantungan yang dicetuskan oleh Andre Gunder Frank (Wardhani 2014). Teori yang dicetuskan oleh Wallerstein (2011), dimana menjadi aplikasi dari konsep marxisme dalam hubungan internasional ini, membagi dunia menjadi tiga struktur esensial yakni, struktur dunia pertama (core), struktur dunia ketiga (periphery), serta semi-periphery. Struktur dunia pertama merupakan struktur yang terdiri dari negara-negara maju yang cenderung memiliki mekanisme produksi bahan-bahan esensial yang diperlukan dunia serta diuntungkan dari produksi tersebut. Sedangkan struktur dunia ketiga merupakan struktur yang di dalamnya terdapat negara-negara berkembang sebagai supplier sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dan sumber daya alam yang secara kontinuitas dieksploitasi oleh negara-negara maju tadi.
Selain itu terdapat dua sistem dunia yakni sistem kerajaan dunia dan sistem ekonomi dunia (Wardhani 2014). Sistem kerajaan dunia merupakan suatu sistem politik yang tersentralisasi dan menggunakan power nya untuk mendistribusikan sumber daya dari dunia ketiga ke dunia pertama. Sistem ini tidak selalu berupa negara melainkan dapat berbentuk rezim internasional seperti IMF maupun WTO, yang mempunyai otoritas untuk membuat negara-negara tunduk terhadap aturan, norma, prosedur dan pembuatan keputusan yang dibuatnya. Sistem ekonomi dunia merupakan sistem dengan satu otoritas dunia dimana sumber dayanya didistribusi melalui pasar dunia yang ada. Baik sistem kerajaan dunia maupun sistem ekonomi dunia dalam kontekstualnya berjalan bersamaan, namun sistem kerajaan dunia dapat dilihat sebagai institusi yang menaungi dengan sistem ekonomi dunia sebagai aturannya. Teori sukses kedua yang dicetuskan oleh Frank (1972) melihat bahwa ketergantungan di dunia saat ini merupakan suatu sistem yang dijaga kelanggengannya oleh negara-negara dunia pertama dengan instrumen seperti kebijakan luar negeri maupun multinational corporations yang senantiasa menjadikan ketergantungan antara negara dunia ketiga dan negara dunia pertama secara kontinuitas terjadi.
Kontribusi teori marxisme maupun strukturialisme difokuskan pada suatu teori baru yang menghadirkan kajian terhadap ketidakadilan dunia serta emansipasi yang dijunjungnya. Selain itu, kedua teori ini merupakan teori yang mengusung persamaan dalam dunia internasional (Wardhani 2014). Selain kesuksesan yang dituainya, kedua teori ini; seperti teori-teori sebelumnya, juga mengalami kritik dari berbagai pihak dikarenakan posisi marxisme yang kurang diperhatikan di dunia internasional. Holsti, seorang realis, merumuskan penyebab dasar tenggelamnya marxisme yang juga menjadi kritik bagi marxisme, dikarenakan terlalu memfokuskan pada hal-hal domestik serta asumsi marxisme ini belum tentu benar dan kurang memperhatikan fakta-fakta peperangan maupun perdamaian (Wardhani 2014).
Pada penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa baik teori marxisme mauppun strukturialisme memiliki asumsi yang sama namun terdapat perbedaan dalam metode pengkajiannya, dimana marxisme lebih memandang masalah secara domestik, sedangkan strukturialisme mengkaji masalah dunia dari teropong internasional. Sehingga, kedua teori ini merupakan terobosan baru yang tidak hanya melihat dunia dari segi konflik maupun korporasi namun memandang kestabilan dunia yang justru di dalamnya terdapat pembagian kelas berujung pada ketidaksetaraan kedudukan. Jadi, kedua teori ini sangat baik adanya dalam melengkapi teori-teori Hubungan Internasional untuk memandang relasi antar negara dari sisi lain yang tidak terpikir baik oleh kaun realis maupun kaum liberalis sebelumnya.
Referensi :
Wardhani, Baiq.L.S. “Marxism&Structurialism”,
Wallerstein, Immanuel. 2011. “The Modern World-System I: Capitalist Agriculture and the Origins of the European World-Economy in the Sixteenth Century”. University of California Press
Frank, Andre Gunder. 1972. “Dependence is dead, long live dependence and the class struggle: An answer to critics”. Latin American Perspectives, Vol. 1, No. 1 (Spring 1972).
Menghadapi berbagai fenomena internasional, praktisi akademis menjawabnya dengan spekulasi-spekulasi yang lantas dipatenkan menjadi teori-teori dalam Hubungan Internasional. Realis sebagai teori yang mengandalkan keyakinannya pada sifat homo homini lupus manusia menggambarkan sikap-sikap negara yang
selalu ingin menguasai serta paham realisme menyatakan dan menitikberatkan bahwa perang yang selama ini telah terjadi dan dianggap sebagai gejala masif yang destruktif merupakan pemicu dari adanya perdamaian itu sendiri. Sedangkan teori liberaalisme sebagai teori kontradiktif dari realis menyatakan bahwa perdamaian mesti diwujudkan dan peperangan bukanlah alat pencapaian perdamaian itu. Hadir pula paham neorealisme atau realisme struktural dan neoliberalisme sebagai terobosan dan penyempurnaan dari teori sebelumnya yang bersifat saling melengkapi dan tidak sekontras paham realisme dengan liberalisme seperti sebelumnya. Lantas, datang sebuah perspektif baru yang menitikberatkan kajian pada aspek ekonomi dan material serta meyakini hal-hal persamaan (equality) dan pengaburan sistem kelas di dunia internasional, dimana perspektif yang tidak murni datang dari kajian Hubungan Internasional ini dikenal dengan perspektif marxisme serta perspektif lainnya yang menitik beratkan pada akses (equity) yakni perspektif strukturialisme. Kedua perspektif tersebut secara bersama-sama menolak paham realisme maupun paham liberalisme yang cenderung self-serving.
Perspektif marxisme yang berbasis ekonomi ini melihat adanya dua kelas di dalam struktur ekonomi yakni kelas borjuis dan kelas proletar, dimana kelas borjuis yang cenderung dominan daripada kelas proletar menciptakan ketidaksetaraan, ketidakseimbangan serta ketidakadilan. Dunia telah didominasi oleh kaum kapitalis serta hanya menyediakan tempat bagi negara-negara yang tergolong telah makmur serta korporasi yang dimiliki oleh negara-negara tersebut (Wardhani 2014). Marxisme menganggap bahwa dunia disusun oleh kapitalis yang terintegrasi dengan baik sehingga hanya mengejar akumulasi modal-modal kapital dan mengeksploitasi kaum proletar secara terus-menerus. Keinginan marxisme untuk meniadakan garis batas antara kaum borjuis dan kaum proletar seringkali dilihat sebagai keinginan utopis; ideologi atau keinginan untuk menjadikan negara dan struktur kenegaraannya sempurna, saja. Kapitalisme ini telah dimulai sejak adanya kolonialisme yang membawa persaingan dalam memanfaatkan sumberdaya yang esensial sebagai bahan ekspor di masa lalu, dilanjutkan dengan masa dekolonialisasi yang justru meningkatkan tingkat dependensi antar negara dan memicu kapitalisme merajalela. Namun apabila disandingkan dengan feodalisme, marxisme menganggap sistem kapitalisme ini sangat positif eksistensinya dalam dunia internasional.
Perspektif lain yakni perspektif strukturialisme yang datang kemudian hadir untuk mengkritik asumsi-asumsi dari paham marxisme itu sendiri, dimana kritiknya berupa kemustahilan dari harapan marxisme dimana kaum proletar akan melakukan protes massal secara internasional untuk meruntuhkan benteng dari kaum borjuis. Strukturialisme sebagai teori pengkritik marxisme ini sendiri menghasilkan dua teori paling penting dimana dianggap sukses menjadi panduan dalam mengkaji dunia yakni teori world-systems yang dikomandoi oleh Immanuel Wallerstein serta teori ketergantungan yang dicetuskan oleh Andre Gunder Frank (Wardhani 2014). Teori yang dicetuskan oleh Wallerstein (2011), dimana menjadi aplikasi dari konsep marxisme dalam hubungan internasional ini, membagi dunia menjadi tiga struktur esensial yakni, struktur dunia pertama (core), struktur dunia ketiga (periphery), serta semi-periphery. Struktur dunia pertama merupakan struktur yang terdiri dari negara-negara maju yang cenderung memiliki mekanisme produksi bahan-bahan esensial yang diperlukan dunia serta diuntungkan dari produksi tersebut. Sedangkan struktur dunia ketiga merupakan struktur yang di dalamnya terdapat negara-negara berkembang sebagai supplier sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dan sumber daya alam yang secara kontinuitas dieksploitasi oleh negara-negara maju tadi.
Selain itu terdapat dua sistem dunia yakni sistem kerajaan dunia dan sistem ekonomi dunia (Wardhani 2014). Sistem kerajaan dunia merupakan suatu sistem politik yang tersentralisasi dan menggunakan power nya untuk mendistribusikan sumber daya dari dunia ketiga ke dunia pertama. Sistem ini tidak selalu berupa negara melainkan dapat berbentuk rezim internasional seperti IMF maupun WTO, yang mempunyai otoritas untuk membuat negara-negara tunduk terhadap aturan, norma, prosedur dan pembuatan keputusan yang dibuatnya. Sistem ekonomi dunia merupakan sistem dengan satu otoritas dunia dimana sumber dayanya didistribusi melalui pasar dunia yang ada. Baik sistem kerajaan dunia maupun sistem ekonomi dunia dalam kontekstualnya berjalan bersamaan, namun sistem kerajaan dunia dapat dilihat sebagai institusi yang menaungi dengan sistem ekonomi dunia sebagai aturannya. Teori sukses kedua yang dicetuskan oleh Frank (1972) melihat bahwa ketergantungan di dunia saat ini merupakan suatu sistem yang dijaga kelanggengannya oleh negara-negara dunia pertama dengan instrumen seperti kebijakan luar negeri maupun multinational corporations yang senantiasa menjadikan ketergantungan antara negara dunia ketiga dan negara dunia pertama secara kontinuitas terjadi.
Kontribusi teori marxisme maupun strukturialisme difokuskan pada suatu teori baru yang menghadirkan kajian terhadap ketidakadilan dunia serta emansipasi yang dijunjungnya. Selain itu, kedua teori ini merupakan teori yang mengusung persamaan dalam dunia internasional (Wardhani 2014). Selain kesuksesan yang dituainya, kedua teori ini; seperti teori-teori sebelumnya, juga mengalami kritik dari berbagai pihak dikarenakan posisi marxisme yang kurang diperhatikan di dunia internasional. Holsti, seorang realis, merumuskan penyebab dasar tenggelamnya marxisme yang juga menjadi kritik bagi marxisme, dikarenakan terlalu memfokuskan pada hal-hal domestik serta asumsi marxisme ini belum tentu benar dan kurang memperhatikan fakta-fakta peperangan maupun perdamaian (Wardhani 2014).
Pada penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa baik teori marxisme mauppun strukturialisme memiliki asumsi yang sama namun terdapat perbedaan dalam metode pengkajiannya, dimana marxisme lebih memandang masalah secara domestik, sedangkan strukturialisme mengkaji masalah dunia dari teropong internasional. Sehingga, kedua teori ini merupakan terobosan baru yang tidak hanya melihat dunia dari segi konflik maupun korporasi namun memandang kestabilan dunia yang justru di dalamnya terdapat pembagian kelas berujung pada ketidaksetaraan kedudukan. Jadi, kedua teori ini sangat baik adanya dalam melengkapi teori-teori Hubungan Internasional untuk memandang relasi antar negara dari sisi lain yang tidak terpikir baik oleh kaun realis maupun kaum liberalis sebelumnya.
Referensi :
Wardhani, Baiq.L.S. “Marxism&Structurialism”,
Wallerstein, Immanuel. 2011. “The Modern World-System I: Capitalist Agriculture and the Origins of the European World-Economy in the Sixteenth Century”. University of California Press
Frank, Andre Gunder. 1972. “Dependence is dead, long live dependence and the class struggle: An answer to critics”. Latin American Perspectives, Vol. 1, No. 1 (Spring 1972).
No comments:
Post a Comment