Tuesday, September 30, 2014

Konstruktivisme

Konstruktivisme

 Perspektif konstruktivisme merupakan perspektif middle ground yang menjembatani antara teori-teori klasik; realisme, liberalisme, marxisme yang sama-sama memposisikan negara sebagai bahan kajian utamanya dengan teori postmodernism; teori yang mengkritisi kegagalan modernisasi dan mengangap modernisasi justru membawa dampak buruk bagi masyarakat global. Pendekatan konstruktivisme juga merekonstruksi ulang pandangan-pandangan yang telah ada sebelumnya, salah satunya adalah rasionalisme atau English School of Thought. Dengan memposisikan diri sebagai konstruktif perspektif sebelumnyalah, pandangan konstruktivisme ini mampu menambahkan hal-hal yang terlewatkan oleh perspektif klasik.
            Konstruktivisme itu sendiri dapat dikatakan sebagai teori alternatif; perannya sebagai teori alternatif sudah tentu terkait erat dengan keberadaan untuk mengkaji ulang perspektif tradisional dan berasal dari luar praktisi akademis Hubungan Internasional namun diadopsi masuk ke dalam studi ini. Kelahiran perspektif ini didasari oleh Perang Dingin yang terjadi antara dua kekuatan besar saat itu; Amerika Serikat dan Uni Soviet di tahun 1989 dengan tujuan utama yakni untuk menjelaskan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh perspektif klasik. Mengingat terjadinya Perang Dingin saat itu merupakan perang yang berbeda dengan bentuk yang dibicarakan oleh realisme, maka perspektif konstruktivisme ini dapat dikatakan mengkaji suatu bentuk perang baru yang belum dikenal oleh masyarakat dengan keadaan dunia yang jauh berbeda dari peperangan sebelumnya.
            Pendekatan ini menghasilkan suatu analisis baru terhadap kejadian Perang Dingin tersebut dengan menelurkan konsepsi bahwa identitas menjadi semakin penting. Kejadian-kejadian yang muncul mengikuti momentum Perang Dingin tersebut menunjukkan bahwa pada intinya aktor sangat terikat dengan sistem yang ada; penulis melihat bahwa sistem disini berarti suatu tatanan yang terjadi dalam suatu kejadian insidental dan tidak dapat dihindari oleh subjek-subjek yang terlibat serta lebih bersifat ordering. Perbedaan inti dari perspektif tradisional dengan pendekatan konstruktivisme terletak pada cara pandang kedua bentuk pendekatan ini dalam melihat dunia. Apabila perspektif tradisional menekankan bahwa apapun yang terjadi di dunia telah ditakdirkan atau merupakan bagian dari destiny, pendekatan konstruktivisme melihat bahwa our world is created by us through interaction.
            Adapun tiga proposisi dasar dari konstruktivisme yakni perilaku aktor dipengaruhi lingkungan, kepentingan dasar dipengaruhi identitas, serta struktur dan agen setara. Pemahaman mengenai pembedaan aktor dan agen perlu ditilik sebelum masuk ke dalam penjelasan mengenai setiap proposisi tersebut. Aktor merupakan suatu subjek yang terlihat dan memainkan peran aktif dalam setiap kejadian; maka dari itu negara disebut aktor dikarenakan perannya akan selalu visible bagi masyarakat global, sedangkan agen lebih bersifat kepada suatu subjek yang berperan dari balik layar; ia akan selalu menjadi fundamental namun tidak perlu untuk terlihat secara kasat mata.
            Setiap proposisi tersebut mengandung penjelasan lebih lanjut yakni proposisi pertama dapat disimplifikasi dengan contoh bahwa perilaku dari negara-negara yang ada sangat dipengaruhi oleh sirkumstansi negara-negara yang terletak berdekatan dengannya secara geografis, sebagai contoh Indonesia dan Malaysia; Indonesia tidak akan terlepas dari segala tindakan yang dilakukan oleh Malaysia yang terkait dengan garis batas teritorial dikarenakan posisi mereka yang berbatasan satu sama lain. Proposisi kedua mengenai identitas dapat dilihat dari adanya perbedaan kepentingan negara hegemoni Amerika Serikat dengan negara netral seperti Jepang. Amerika Serikat sebagai negara hegemon tentu memiliki kepentingan berbeda yakni memperkuat basis militer, sekuritas, dan hal-hal serupa; dengan Jepang yang menganut pasifisme dan sekaligus bersifat netral karenanya; tidak memiliki militer. Sedangkan proposisi terakhir dapat dilihat dari proses ordering atau memaksa dalam struktur bersifat sangat terkait erat dengan posisi seimbang terhadap agen yang ada.
            Konstruktivisme bukanlah pandangan yang hanya merekonstrusi perspektif tradisional, melainkan juga mengandung nilai-nilai metodologi ilmu pengetahuan yang terdiri dari ontologi; hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri, metodologi; cara-cara yang digunakan, serta epistemologi; pengklasifikasian yang terdapat di dalam Hubungan Internasional  itu sendiri. Kritik-kritik khusus konstruktivisme dijatuhkan terhadap neorealisme, liberalisme, serta positivisme. Neorealisme dikritik olehnya dikarenakan pandangannya mengenai anarki yang diyakini sebagai proses pasti yang terjadi antar negara berdaulat, sedangkan konstruktivisme melihat bahwa anarki tetap bergantung pada interaksi antara satu negara dengan negara lainnya. Liberalisme mandapat kritikan dari segi keyakinan bahwa sifat manusia akan selalu harmonis dan kooperatif, sedangkan konstruktivisme membantahnya bahwa pandangan terhadap sifat manusia itu sendiri bergantung erat dengan penilaian masing-masing subjek yang ada. Sedangkan positivisme mendapatkan kritikan berdasar pada keadaannya dalam menganalisis metoologi yakni mendukung teori dengan fakta yang ada dan dibantah oleh konstruktivisme. Onuf (1989) adalah figur pertama yang menanamkan konsep konstruktivisme, dimana terdapat tiga pemikiran utamanya yakni kenyataan internasional adalah hasil dari tindakan manusia itu sendiri; konstruksi sosial bukanlah pemberian mutlak, pengetahuan di dunia merupakan hasil konstruksi, serta perspektif neoliberal pun neorealisme tidak menyediakan konsepsi Perang Dingin. Penulis dapat mengatakan bahwa sebagai konsepsi middle-ground, konstruktivisme berusaha untuk mengkaji posmodernisme dan perspektif tradisional dengan memasukkan inti-inti kajiannya menjadi suatu perpaduan sehingga menghasilkan pendekatan yang lebih mudah dipahami oleh dunia saat ini.

Referensi:
Onuf, N, 1989. World of Our Making. University of South Carolina Press

No comments:

Left your comment here