Monday, May 25, 2015

Jangan hanya melihat pada apa yang dilihat, Tapi lihatlah apa yang tidak terlihat

Jangan hanya melihat pada apa yang dilihat, Tapi lihatlah apa yang tidak terlihat

Kadang kita terburu dalam mengambil suatu keputusan atau mengambil suatu sikap tanpa berpikir atau bertanya bahwa apakah objek yang kita lihat itu benar atau tidak?
Suatu hari ketika saya pertama kali kuliah di Bandung(Indonesia) saat itu saya berencana mau ketempat kosan teman saya ada diCimahi (kota madya) karena buru-buru mau cepat ke kosan teman saya sehingga ketika saya melihat angkutan Jalur Cimahi-Bandung & Bandung-Cimahi saya langsung, sesungguhnya saya harus bertanya terlebih dahulu pada sopir mau ke arah mana? ke Cimahi atau Bandung, tapi saya tahan angkot itu langsung naik tanpa bertanya apa-apa, setelah berjalan sekitar 5 kilometer saya tidak menyadari bahwa sudah sampai di stasion Hall Bandung, pada hal tujuan saya tadi maunya ke Cimahi, karena salah tempat tujuan saya bingun sendiri disitu turun diam-diam, mau protes juga tidak bisa karena itu kesalahan saya, singkat cerita saya pulang lagi ke kosan saya dan tidak jadi pergi ke Cimahi. Ini adalah sebuah contoh kecil yang sengaja saya angkat untuk membahas maksud dari topik tersebut diatas, terkadang entah kita sadar atau tidak sadar kita mengabaikan hal-hal kecil yang sesungguhnya sangat bermanfaat jika kita ingin belajar mulai meperhatikan dari hal sekecil apapun dan menganggap semuanya itu sama penting dan terus berusaha untuk berhati-hati dengan teliti sebelum mengambil suatu sikap atau tindakan, apabila kita sudah terbiasa dengan hal-hal kecil yang mungkin saja dianggap orang lain tidak terlalu penting maka saya yakin sekali bahwa kita akan mampu melakukan tindakan-tindakan yang tepat ketika kita dihadapkan pada hal-hal yang lebih besar. Hal terbilang tidak sulit dan semua mampu untuk melakukannya tetapi pada kenyataannya hanya ada beberapa orang saja yang sanggup melakukan hal-hal tersebut diatas dan mereka yang sanggup melakukan hal-hal tersebut diatas adalah orang-orang sukses, mereka adalah orang-orang yang terus belajar dan untuk melakukan perubahan terus menerus

Karena Ingin miliki dunia yang akhirnya harus kehilangan segalanya yang pernah dimiliki

Karena Ingin miliki dunia yang akhirnya harus kehilangan segalanya yang pernah dimiliki

Setiap orang pasti selalu mengharapkan yang terbaik, ingin menjadi manusia yang berguna bagi orang lain, ingin membahagiakan orang-orang yang kita kasihi, ingin diperhatikan dan memperhatikan, jika berada ditengah-tengah orang tuli maka ingin menjadi telingga bagi mereka, jika berada ditengah-tengah orang yang tidak punya lengan sama sekali maka ingin meminjamkan tangannya kepada mereka untuk mereka gunakan untuk melayani diri mereka, jika bertemu dengan orang tidak memiliki kaki maka jadikanlah kaki kita menjadi kaki mereka untuk bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan menurut saya dengan tujuan inilah Allah menciptakan kita beragam fisik dan situasi supaya kita saling melengkapi, hal sesungguhya mudah sekali dilakukan oleh siapapun tapi tidak semua orang bisa melakukan hal yang demikian, dan setiap orang baik itu penjahat sekalipun pasti memiliki rasa kasih dan belas kasih, meskipun demikian kasih yang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya tidak sama dengan kasih yang dimiliki oleh seorang ibu, kasih yang dimiliki oleh seorang ibu adalah kasih yang menurut saya murni dan kasih ini yang benar-benar mengikuti teladan Kristus, sebab perjuangan yang dilakukan oleh seorang ibu bukanlah perjuangan yang biasa saja tetapi apa yang mereka lakukan adalah pertaruhan nyawa, mereka tidak peduli apa yang akan terjadi pada mereka, mereka tidak pernah takut, apapun mereka siap menerima meski maut sekalipun, mereka tetap berharap agar anaknya selamat,

Sejak kecil aku hanya punya satu harapan yaitu ingin membahagiakan orang saya, ingin memberikan kepada mereka apa yang mereka butuh, makanan yang secukupnya dan aku mau supaya mereka tidak usah terlalu bekerja keras ketika aku sudah besar, namun harapan tersebut hanyalah sia-sia belaka, justru mala sebaliknya malah membuat orang tua makin menderita akibat ambisi dan keegoismean aku. semenjak aku tamat sekolah dasar (SD) saya sudah merantau meskipun tidak terlalu jauh tapi cukup jauh dari orang tua (dari kampung terisolir dan melanjutkan SMP di ibu kota kabupaten), semenjak itu saya sudah bisa merasakan bagaimana harus menahan lapar jika, tidak ada pengiriman bekal dari orang tua, terpaksa harus tahan lapar 2 hari dan tiga hari, karena waktu saya tinggal dipondok sama teman-teman sekecamatan, segalanya tanggung sendiri kecuali tempat tinggal, dengan situasi tersebut memaksa saya untuk belajar lebih mandiri lagi, bagaimana saya harus mencari, jalan untuk mendapatkan nasi sepiring untuk bisa melanjutkan studi saya, waktu saya tinggal dekat dengan Mantang ABRI dan kebetulan dan masih ada lagi beberapa orang lainnya

Friday, October 10, 2014

Perdebatan Besar antara Liberalisme dengan Realisme



Hubungan Internasional merupakan disiplin ilmu yang terus bergerak dinamis mengikuti perkembangan permasalahan dunia. Tetapi tidak begitu saja ilmu hubungan internasional tersebut muncul. Sebelum menjadi disiplin ilmu, ilmu hubungan

Left your comment here