Monday, May 25, 2015

Karena Ingin miliki dunia yang akhirnya harus kehilangan segalanya yang pernah dimiliki

Karena Ingin miliki dunia yang akhirnya harus kehilangan segalanya yang pernah dimiliki

Setiap orang pasti selalu mengharapkan yang terbaik, ingin menjadi manusia yang berguna bagi orang lain, ingin membahagiakan orang-orang yang kita kasihi, ingin diperhatikan dan memperhatikan, jika berada ditengah-tengah orang tuli maka ingin menjadi telingga bagi mereka, jika berada ditengah-tengah orang yang tidak punya lengan sama sekali maka ingin meminjamkan tangannya kepada mereka untuk mereka gunakan untuk melayani diri mereka, jika bertemu dengan orang tidak memiliki kaki maka jadikanlah kaki kita menjadi kaki mereka untuk bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan menurut saya dengan tujuan inilah Allah menciptakan kita beragam fisik dan situasi supaya kita saling melengkapi, hal sesungguhya mudah sekali dilakukan oleh siapapun tapi tidak semua orang bisa melakukan hal yang demikian, dan setiap orang baik itu penjahat sekalipun pasti memiliki rasa kasih dan belas kasih, meskipun demikian kasih yang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya tidak sama dengan kasih yang dimiliki oleh seorang ibu, kasih yang dimiliki oleh seorang ibu adalah kasih yang menurut saya murni dan kasih ini yang benar-benar mengikuti teladan Kristus, sebab perjuangan yang dilakukan oleh seorang ibu bukanlah perjuangan yang biasa saja tetapi apa yang mereka lakukan adalah pertaruhan nyawa, mereka tidak peduli apa yang akan terjadi pada mereka, mereka tidak pernah takut, apapun mereka siap menerima meski maut sekalipun, mereka tetap berharap agar anaknya selamat,

Sejak kecil aku hanya punya satu harapan yaitu ingin membahagiakan orang saya, ingin memberikan kepada mereka apa yang mereka butuh, makanan yang secukupnya dan aku mau supaya mereka tidak usah terlalu bekerja keras ketika aku sudah besar, namun harapan tersebut hanyalah sia-sia belaka, justru mala sebaliknya malah membuat orang tua makin menderita akibat ambisi dan keegoismean aku. semenjak aku tamat sekolah dasar (SD) saya sudah merantau meskipun tidak terlalu jauh tapi cukup jauh dari orang tua (dari kampung terisolir dan melanjutkan SMP di ibu kota kabupaten), semenjak itu saya sudah bisa merasakan bagaimana harus menahan lapar jika, tidak ada pengiriman bekal dari orang tua, terpaksa harus tahan lapar 2 hari dan tiga hari, karena waktu saya tinggal dipondok sama teman-teman sekecamatan, segalanya tanggung sendiri kecuali tempat tinggal, dengan situasi tersebut memaksa saya untuk belajar lebih mandiri lagi, bagaimana saya harus mencari, jalan untuk mendapatkan nasi sepiring untuk bisa melanjutkan studi saya, waktu saya tinggal dekat dengan Mantang ABRI dan kebetulan dan masih ada lagi beberapa orang lainnya

No comments:

Left your comment here